JAKARTA – Langkah Amerika Serikat yang memberlakukan blokade di Selat Hormuz menyusul kegagalan perundingan dengan Iran mulai memicu alarm bahaya bagi perekonomian global. Laporan terbaru dari bank investasi Nomura memperingatkan bahwa negara-negara Asia, termasuk Indonesia, berada di garis depan risiko ekonomi akibat ketergantungan tinggi pada impor energi dari kawasan Teluk Persia.
Dalam laporan yang dirilis pada Rabu (15/4/2026), Nomura menyebutkan bahwa selain Indonesia, negara-negara seperti Thailand, India, Filipina, serta beberapa kekuatan ekonomi Eropa seperti Jerman, Italia, dan Inggris, merupakan pihak yang paling rentan terhadap gejolak ini. Ketegangan di jalur perdagangan energi tersibuk di dunia tersebut berpotensi memicu lonjakan inflasi dan memperlambat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
Ketergantungan terhadap pasokan Timur Tengah menjadi titik lemah utama. Nomura mencatat lebih dari 90% impor minyak mentah Jepang dan Filipina berasal dari kawasan ini. Sementara itu, India menggantungkan 60% pasokan gas alam cair (LNG) mereka pada Teluk Persia.
Indonesia sendiri, sebagai negara importir neto minyak, menghadapi tekanan pada stabilitas subsidi energi dan nilai tukar Rupiah jika harga minyak dunia terus meroket. Para analis memperkirakan kenaikan harga energi sebesar 10% saja dapat memangkas PDB negara-negara pengguna energi secara signifikan dalam dua tahun ke depan.
Direktur Pelaksana Onyx Capital Group, Jorge Montepeque, memperingatkan bahwa situasi ini bisa berkembang menjadi krisis global yang tak terkendali.







