Blokade Selat Hormuz Mengancam Ekonomi Global, Indonesia Masuk Daftar Negara Paling Rentan

“Langkah blokade ini berpotensi mengubah konflik regional menjadi krisis global. Jika blokade berlanjut, pasar bisa kehilangan hingga 12 juta barel minyak per hari. Ini bukan lagi soal politik, tapi soal ketahanan energi dunia,” ujar Montepeque dalam wawancara dengan Bloomberg Television.

Berbeda dengan Indonesia dan negara Asia Tenggara lainnya, Amerika Serikat dan China dinilai lebih memiliki daya tahan. AS kini hanya mengimpor sekitar 8% minyak mentahnya dari Teluk Persia berkat statusnya sebagai produsen energi besar. Di sisi lain, China, meski mengimpor 65% minyaknya dari Timur Tengah melalui laut, memiliki cadangan batu bara yang melimpah dan stok minyak strategis untuk meredam guncangan jangka pendek.

Sebaliknya, Singapura berada dalam posisi unik. Meski secara ekonomi kuat, platform Energy World Mag mengingatkan bahwa 97% energi Singapura bergantung pada bahan bakar fosil tanpa alternatif pasokan yang cukup, menjadikan negara tetangga Indonesia ini sangat rawan terhadap gangguan distribusi di Selat Hormuz.

Pasar energi telah bereaksi cepat. Harga minyak mentah Brent yang semula berada di kisaran 75 dollar AS kini telah melonjak mendekati 99 dollar AS per barel. Jika blokade terus berlanjut tanpa solusi diplomasi, para eksekutif pasar minyak memprediksi harga dapat menembus angka 140 hingga 150 dollar AS per barel, sebuah level yang akan sangat membebani biaya logistik dan manufaktur di Indonesia.

Bacaan Lainnya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *