YOGYAKARTA – Gelombang kekecewaan terhadap kinerja pemerintah memicu aksi teatrikal yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM). Pada Minggu sore (07/06/2026), sekelompok mahasiswa berkumpul di Bundaran UGM untuk menggelar aksi simbolik berupa penggantungan dan kremasi jasad pemimpin negara, sebagai bentuk protes keras atas kondisi Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Aksi yang berlangsung selama lebih dari satu jam ini diawali dengan orasi, lalu dilanjutkan dengan penggantungan dua boneka pocong yang ditempeli foto Prabowo dan Gibran di tiang bendera Bundaran UGM. Orator aksi, Jack, menegaskan bahwa prosesi tersebut merupakan simbol matinya empati penguasa terhadap rakyat.
“Innalillahi wa inna ilahi raji’un, telah berpulang ke hadapan Tuhan, hati nurani Prabowo-Gibran,” seru Jack di tengah massa, dilansir dari balairungpress.com. Ia menambahkan, “Secara simbolik, kita gantung nuraninya di atas sana agar [Prabowo dan Gibran] merasakan penderitaan yang dirasakan oleh rakyat Indonesia sekarang.”
Kondisi ekonomi nasional menjadi poin krusial yang disorot oleh para demonstran. Peserta aksi bernama Mesa memaparkan bagaimana indikator ekonomi makro, seperti anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan merosotnya nilai tukar rupiah, berimbas langsung pada kesejahteraan publik. Menurut Mesa, situasi ini kian diperparah oleh absennya kekuatan oposisi di dalam pemerintahan.
Senada dengan hal itu, peserta aksi lain bernama Pay menilai bahwa keterpurukan ini terjadi karena pemerintah enggan melakukan langkah korektif terhadap berbagai regulasi yang timpang. “Kondisi ekonomi kita sedang tidak baik-baik saja, justru sangat menuju kehancuran,” tegas Pay.
Dampak nyata dari salah urus ekonomi ini juga disuarakan secara emosional oleh Hadit. Ia menyoroti fenomena memilukan di mana rakyat kecil terpaksa berutang demi bisa memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
“Seharusnya ibu kita di rumah itu tidak menangisi utang yang semakin menunggak dan ayah kalian badannya tidak rusak karena hari-hari membanting tulangnya demi membayar utang yang tidak terbayarkan,” ujar Hadit dalam orasinya.
Selain sektor keuangan, kebijakan prioritas berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak luput dari kritik tajam. Marko, salah satu massa aksi, menilai program tersebut tidak memberikan dampak signifikan. Sebagai bentuk protes, mahasiswa menggunakan tempat makan (ompreng) MBG sebagai batu nisan dalam teatrikal pemakaman tersebut. Jack bahkan menuding program itu rawan menjadi celah korupsi. “Program-program prioritas banyak yang digunakan untuk menjadi ladang korupsi,” tukas Jack.
Mesa menyimpulkan bahwa seluruh persoalan pelik yang menjerat bangsa saat ini berakar dari ketidakmampuan rezim dalam memimpin. Ia menganggap moralitas dan kapasitas pemerintah sudah tidak layak lagi untuk mengurus negara. “Indonesia saat ini sedang tenggelam, tenggelam oleh bobroknya rezim,” cetus Mesa.
Di sisi lain, massa aksi juga melayangkan kekecewaan kepada pihak rektorat UGM yang dinilai pasif dan acuh terhadap persoalan bangsa. Kampus yang menyandang gelar “Universitas Kerakyatan” itu dianggap enggan menyuarakan hak publik karena adanya ketakutan atau sikap awas tertentu.
“Saya sangat menyayangkan dan kecewa bahwasanya UGM sebagai salah satu pilar bangsa ini tidak pernah ada statement yang berpihak kepada masyarakat,” sesal Pay.
Aksi ditutup dengan doa bersama. Para mahasiswa menuntut adanya kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengawal kondisi negara. Menutup demonstrasi tersebut, Mesa menyampaikan harapan besar akan adanya perubahan struktural demi kebaikan publik. “Kami berharap Indonesia lekas pulih, kami berharap pemerintahan berganti, kami berharap ada perubahan yang mengakar, kami berharap yang terbaik untuk masyarakat,” pungkasnya, dikutip dari balairungpress.com.







