Krisis Energi Terburuk Sepanjang Sejarah: Buntut Perang AS-Iran dan Penutupan Selat Hormuz

Perang AS-Iran dan blokade Selat Hormuz memicu krisis energi terburuk dalam sejarah. (Foto: Inilah.com/AI)

JAKARTA – Dunia saat ini sedang berada di titik nadir keamanan energi menyusul eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penutupan Selat Hormuz sebagai jalur nadi utama perdagangan internasional telah menyebabkan gangguan pasokan minyak mentah dan gas alam pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, melampaui seluruh catatan krisis energi yang pernah dialami manusia sejak abad ke-20.

Berdasarkan laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA) dan Departemen Energi AS, krisis tahun 2026 ini secara resmi dikategorikan sebagai guncangan energi paling parah, mengalahkan dampak historis dari Embargo Arab 1973 maupun Perang Teluk 1991. Puncak kehilangan pasokan minyak dunia saat ini telah menyentuh angka 12 juta barel per hari (bph). Volume tersebut setara dengan 11,5 persen dari total kebutuhan minyak global yang diproyeksikan mencapai 104,3 juta bph pada tahun ini.

Situasi darurat ini mendapat perhatian serius dari otoritas energi global yang melihat adanya ancaman nyata terhadap stabilitas ekonomi dunia. Dalam laporan resminya, dilansir inilah.com yang dirilis pada Jumat (24/4/2026), IEA memberikan peringatan keras mengenai kondisi saat ini. “Ini merupakan krisis energi terburuk yang pernah dihadapi dunia,” tulis IEA dalam pernyataan tersebut.

Data statistik menunjukkan bahwa selama 52 hari konflik berlangsung, pasar global telah kehilangan total 624 juta barel minyak. Sebagai perbandingan, krisis besar di masa lalu seperti Revolusi Iran 1978 hanya menghilangkan 5,6 juta bph, sementara invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 hanya berdampak pada penurunan produksi sekitar 1 juta bph. Masifnya kehilangan pasokan kali ini diperparah oleh lumpuhnya infrastruktur energi yang membutuhkan waktu lama untuk pemulihan.

Berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya, dampak blokade Selat Hormuz kali ini menciptakan efek domino yang melumpuhkan sektor hilir secara serentak. Selain menyumbat aliran minyak, penutupan jalur ini juga menghentikan sekitar 20 persen produksi Gas Alam Cair (LNG) dunia yang berasal dari Qatar. Akibatnya, kilang-kilang di kawasan Teluk berhenti beroperasi, memicu kelangkaan bahan bakar diesel dan avtur, hingga mengancam produksi pupuk dunia akibat terhentinya pasokan bahan baku amonia.

Bacaan Lainnya

Kondisi semakin rumit karena negara-negara produsen besar seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab tidak mampu menyalurkan cadangan minyak mereka ke pasar internasional karena terputusnya akses geografis di Selat Hormuz. Jika pada tahun 1973 tekanan berat dirasakan oleh negara-negara Barat, kini kerentanan tertinggi justru bergeser ke wilayah Asia dan Afrika, di mana kelangkaan bahan bakar mulai memicu guncangan ekonomi yang signifikan.

Dunia kini menanti langkah diplomasi internasional untuk membuka kembali akses perdagangan di Selat Hormuz. Tanpa adanya solusi cepat, ekonomi global dibayangi resesi panjang akibat kekeringan energi yang paling merusak dalam sejarah.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *