YOGYAKARTA – Tuduhan terkait keaslian ijazah serta skripsi Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dinilai muncul akibat kerangka analisis yang keliru dan tidak sesuai dengan realitas teknologi masa kuliah era 1980-an. Sejumlah alumnus Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa variasi penggunaan mesin ketik, jasa percetakan, hingga komputer merupakan hal wajar yang terjadi secara bersamaan pada periode tersebut.
Ketua Senat Fakultas Kehutanan UGM, San Afri Awang, menyayangkan maraknya narasi liar di media sosial yang menyerang almamaternya. Menurut senior Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM tersebut, penggunaan jenis huruf seperti Times New Roman pada sampul dokumen tidak bisa serta-merta dijadikan alasan untuk meragukan keabsahan skripsi.
San Afri menceritakan pengalaman pribadinya saat menempuh pendidikan, di mana fasilitas percetakan luar dan komputer IBM PC sudah mulai dimanfaatkan oleh mahasiswa UGM untuk keperluan tugas akhir maupun olah data.
“Saya masih ingat waktu saya buat cover (skripsi), lari ke Prima. Di zaman itu sudah ada tempat cetak sampul yang terkenal, Prima dan Sanur,” kata San Afri, dikutip dari situs resmi UGM, Selasa (1/9/2026).
Ia menambahkan, keberadaan fasilitas pengetikan berbasis komputer memang telah tersedia di sekitar area kampus UGM, meski tingkat ekonominya belum terjangkau oleh seluruh mahasiswa.
“Jangan heran di sekitar UGM juga sudah ada jasa pengetikan menggunakan komputer IBM PC. Saya sempat pakai buat mengolah data statistik,” ujarnya.
Lebih lanjut, San Afri menjelaskan bahwa kesenjangan finansial membuat sebagian mahasiswa kala itu tetap bertahan menggunakan mesin ketik manual, termasuk untuk bagian lembar pengesahan maupun sampul.
“Kawan saya yang secara ekonomi tidak mampu, banyak yang membuat lembar sampul dan pengesahan dengan mesin ketik,” tuturnya.
Oleh karena itu, penyusunan skripsi pada masa tersebut tidak bisa diseragamkan dengan standar teknologi modern. Penilain yang mengabaikan latar belakang historis tersebut dinilai berpotensi menyesatkan publik.
“Dia (Joko Widodo) lulus dari sini dan buktinya ada kok,” kata San Afri.
Senada dengan hal itu, rekan seangkatan Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM, Frono Jiwo, turut membantah spekulasi yang berkembang. Frono mengungkapkan bahwa ijazah milik Jokowi memiliki format, tata letak, jenis huruf, hingga penandatangan pejabat yang identik dengan ijazah miliknya, yaitu Rektor UGM Prof. T Jacob dan Dekan Prof. Soenardi Prawirohatmodjo.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujar Frono.
Mengenai pengerjaan skripsi, Frono mengonfirmasi bahwa mayoritas mahasiswa angkatannya merampungkan pengerjaan naskah menggunakan mesin ketik, sedangkan proses penjilidan dan cetak sampul diserahkan ke pihak ketiga.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa,” katanya.
“Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” lanjut Frono.
Melalui rincian fakta sejarah ini, para alumni UGM berharap polemik teknis font maupun metode pencetakan tidak lagi dipelintir untuk meragukan status kelulusan Joko Widodo yang sah secara akademik.







