JAKARTA – Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mendadak pasang badan guna meluruskan potongan video viral yang memicu kegaduhan publik. Sorotan tajam tertuju pada Ketua Umum DPP PKB, Abdul Muhaimin Iskandar (Cak Imin), usai melontarkan balik kritik menohok mengenai kondisi kepemimpinan Nahdlatul Ulama (NU) yang dikaitkan dengan latar belakang Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Polemik ini mengemuka setelah mantan Ketua Umum PB HMI, Anas Urbaningrum, mengunggah potongan video pernyataan tersebut di akun X miliknya. Dalam rekaman yang beredar luas itu, Cak Imin secara gamblang menilai perjalanan NU selama setengah dekade terakhir berada dalam posisi yang memprihatinkan.
“Yang jelas terpuruk karena dipimpin oleh alumni HMI, kira-kira gitulah,” kata Cak Imin dalam video beredar.
Pernyataan menohok tersebut langsung memantik diskursus publik lantaran menyeret identitas organisasi kemahasiswaan legendaris di Indonesia. Menanggapi situasi yang memanas, Ketua Harian DPP PKB, Najmi Mumtaza Rabbany atau Gus Najmi, memberikan sinyal penegasan bahwa ujaran sang ketua umum harus dicermati secara utuh serta tidak ditarik keluar dari konteks utamanya.
Gus Najmi membantah anggapan bahwa wacana tersebut diniatkan untuk mendegradasi korps alumni HMI. Menurutnya, fokus utama Cak Imin murni berpusat pada evaluasi kinerja internal kepemimpinan NU, bukan tindakan agresi terhadap entitas HMI.
“Beliau sedang mengkritik sebuah kepemimpinan dan mengevaluasi kondisi NU, bukan menyerang HMI sebagai organisasi ataupun seluruh alumninya,” kata Najmi dalam keterangan tertulis, Minggu (30/8).
Lebih lanjut, Najmi menilai atribut latar belakang organisasi seorang tokoh kerap dijadikan identitas personal semata. Menjadikan latar belakang biografis sebagai sasaran tembak kekecewaan atas gaya kepemimpinan diyakini berisiko melahirkan kerancuan logika di tengah masyarakat luas.
“Jika setiap kritik terhadap seorang figur otomatis dianggap kritik terhadap organisasinya, maka kita sedang terjebak dalam fallacy berpikir,” katanya.
Ia menekankan bahwa substansi mendasar dari polemik ini terletak pada tingkat kapabilitas serta luaran nyata dari suatu tatanan manajemen kepemimpinan. Sebagai sosok yang dibesarkan dalam rahim tradisi pesantren dan jam’iyyah NU, kritik tajam yang dilayangkan Cak Imin diklaim sebagai bentuk kepedulian moril yang mendalam demi perbaikan organisasi tempatnya berakar.
Di sisi lain, respons cepat PKB ini juga menyiratkan kekhawatiran akan timbulnya eskalasi gesekan mendatar di tingkat basis massa antar-organisasi kepemudaan dan pergerakan mahasiswa. Oleh karena itu, narasi evaluasi internal diimbau agar tidak digeser menjadi benturan destruktif.
“Jangan sampai narasi evaluasi kepemimpinan ini dipelintir menjadi adu domba antar-organisasi pergerakan. Perbedaan analisis itu sehat, namun persatuan gerakan mahasiswa dan pemuda harus tetap yang utama,” ujarnya.
Klarifikasi kritis ini memunculkan tantangan baru bagi dinamika internal NU dan PKB dalam menyeimbangkan tradisi otokritik tanpa mengorbankan iklim keharmonisan lintas elemen pergerakan di tanah air.







