Hari Jadi ke-832 Trenggalek, “Hambeging Bumi” dan Harapan Petani di Tengah Krisis Air

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin dalam rangka Hari Jadi ke-832 Trenggalek. (Foto: Kabar Trenggalek)

TRENGGALEK – Puncak peringatan Hari Jadi ke-832 Kabupaten Trenggalek pada Senin (31/8/2026) berlangsung penuh nuansa kontemplatif. Mengusung tema “Hambeging Bumi”, momentum tahunan ini tidak sekadar diisi dengan prosesi adat formal, melainkan menjadi panggung refleksi atas krisis kekeringan yang tengah melanda sektor pertanian setempat.

Di bawah terik matahari, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memilih melakukan aksi kirab dengan berjalan kaki tanpa alas. Langkah membumi tersebut diambil sebagai bentuk penjiwaan terhadap tema acara sekaligus sarana prihatin atas kondisi daerah.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, perayaan kali ini bertepatan dengan bulan Maulid, sehingga unsur keagamaan dan tradisi bersedekah mendominasi jalannya acara. Panitia menyisipkan pembacaan Mahalul Qiyam di tengah prosesi serta membagikan udik-udik kepada warga yang hadir.

“Secara prinsip sama, enggak ada yang berbeda, tapi karena bulan ini bertepatan dengan bulan Maulid, jadi kita tadi juga mengharapkan kehadiran Rasulullah di hati kita ya, di setiap keseharian kita,” kata Arifin.

Bupati Arifin menekankan bahwa aksi fisik yang dilakoni para pejabat merupakan upaya untuk meneladani sifat bumi serta bentuk keteladanan kepemimpinan.

Bacaan Lainnya

“Makanya kita tadi membaca Mahalul Qiyam di tengah prosesi hari jadi. Kemudian disunnahkan bersedekah, maka kita tadi juga nyebar udik udik,” ujarnya.

Ia menambahkan keterikatannya dengan tema yang diusung: “Terus temanya Hambeging Bumi, kita berusaha menyifati seperti sifatnya Bumi, kembali ke Bumi. Ya, tadi dilakukan secara membumi, semuanya jalan mengikuti prosesi kirab.”

Apresiasi khusus juga disampaikan Arifin kepada jajaran Forkopimda yang turut merasakan langsung panasnya aspal jalanan tanpa alas kaki. “Saya juga berterima kasih tadi Forkopimda tiba-tiba ikut semua bertelanjang kaki, ya, berpanas-panasan. Ya, semoga jadi laku tirakatnya seluruh pimpinan,” lanjutnya.

Di sisi lain, partisipasi masyarakat menunjukkan dimensi yang lebih kritis. Kelompok tani yang tergabung dalam barisan Bergodo Tani mengarak cikar berisi hasil bumi seperti kacang panjang dan terong, mendampingi tumpeng utama. Keterlibatan ini bukan sekadar partisipasi seremonial, melainkan wujud keputusasaan sekaligus harapan para petani yang tengah terhimpit kelangkaan pasokan air irigasi.

Antusiasme petani untuk berpartisipasi bahkan sempat membuat dinas terkait kewalahan membatasi armada pengangkut. “Ya, ada yang apa namanya sedekahnya dari kelompok tani, tadi kan terlihat ada Bergodo Tani di barisan paling belakang. Ada yang membawa cikar, kemudian para petani ada yang bawa kacang panjang, ada yang terong,” ujarnya.

Arifin membeberkan bahwa desakan petani untuk ikut serta dilandasi kepercayaan bahwa sedekah hasil bumi ini dapat membuka jalan keluar atas krisis air. “Kemarin saya malam masih melihat persiapannya Kepala Dinas sampai mengembalikan beberapa pikap gitu karena hampir meyakini semua petani ingin ikut, ingin terlibat, karena petani juga percaya ini bagian dari sedekahnya dan di musim-musim seperti ini kritis sekali mereka membutuhkan air juga,” katanya.

Sedekah ini dipandang sebagai doa terbuka agar lahan pertanian yang tandus dapat kembali teraliri. Pemerintah Kabupaten Trenggalek sendiri mengklaim tengah mempercepat langkah teknis melalui pembuatan sumur-sumur dalam di berbagai lokasi terdampak.

“Maka juga punya pengharapan semoga nanti sedekahnya dijawab, segera persawahan-persawahan yang saat ini kesulitan air semoga nanti bisa segera hidup lagi dari sumber-sumber air baik yang diupayakan secara teknis dengan sekarang kita mengebut pembangunan sumur-sumur dalam,” kata Arifin.

Ia menegaskan bahwa penanganan masalah ini dilakukan secara paralel antara infrastruktur fisik dan penyerahan diri kepada sang Pencipta. “Bisa dicek nanti di Dinas Pertanian banyak sekali pekerjaan sumur dalam yang sudah kita kerjakan dan juga selebihnya ya kita serahkan kepada Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Menutup rangkaian acara, doa dipanjatkan tidak hanya untuk kesuburan tanah Trenggalek, tetapi juga untuk keselamatan dan kedamaian bangsa Indonesia secara luas.

“Semoga Allah memberikan rezekinya berupa hujan yang hujannya hujan yang berkah, yang membawa eh manfaat untuk kita semua,” katanya.

Arifin melengkapi harapannya untuk skala nasional: “Ya, kalau doa untuk bangsa Indonesia ya kita bagian dari Indonesia tadi doanya umum aja. Insya Allah biladina Indonesia baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Ya, semoga jadi negeri aman tentram dan yang paling penting robbun ghofur, negeri yang diridhoi oleh Allah. Itu yang paling penting, yang penting dapat ridho-Nya Gusti Allah,” kata dia.

Pos terkait