Gencatan Senjata di Ujung Tanduk, Iran Isyaratkan Absen dari Perundingan dengan AS

Iran berencana tak menghadiri perundingan lanjutan dengan Amerika Serikat pada Senin (20/4) beberapa hari sebelum masa gencatan senjata sejak 8 April berakhir. (Foto: CNN Indonesia)

TEHERAN – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas menjelang berakhirnya masa gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran mengisyaratkan tidak akan menghadiri putaran negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin (20/4/2026), hanya dua hari sebelum kesepakatan damai sementara tersebut berakhir pada Rabu, 22 April 2026.

Langkah mundur Teheran ini dipicu oleh sikap Amerika Serikat yang masih mempertahankan blokade ketat di pelabuhan-pelabuhan Iran. Situasi semakin keruh menyusul laporan adanya serangan dari kapal perusak AS terhadap kapal Iran di Selat Hormuz pada Minggu (19/4/2026). Insiden ini terjadi sesaat setelah Presiden Donald Trump memberikan pernyataan keras terkait aktivitas maritim di wilayah tersebut.

Lembaga penyiar pemerintah Iran, IRIB, mengonfirmasi sikap dingin Teheran terhadap upaya diplomasi ini. Berdasarkan sumber internal otoritas Iran, ditegaskan bahwa hingga saat ini belum ada agenda resmi bagi mereka untuk duduk kembali di meja perundingan dengan pihak Washington.

“Saat ini belum ada rencana untuk berpartisipasi dalam putaran berikutnya perundingan Iran-AS,” ungkap sumber tersebut sebagaimana dikutip dari IRIB.

Hambatan utama dalam dialog ini tetap tertuju pada blokade ekonomi dan maritim yang diberlakukan AS. Kantor berita Fars dan Tasnim melaporkan bahwa suasana diplomasi saat ini jauh dari kata positif. Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan melanjutkan pembicaraan selama pelabuhan mereka masih dikepung oleh kekuatan militer Amerika.

Bacaan Lainnya

Kantor berita IRNA bahkan menyebut tuntutan yang diajukan Washington sebagai sesuatu yang “tidak masuk akal dan tidak realistis”. Menurut pihak Iran, kondisi saat ini tidak memberikan harapan atau prospek yang jelas bagi terciptanya kesepakatan yang saling menguntungkan.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump melalui pernyataannya pada Minggu (19/4/2026) tetap bersikeras pada posisinya. Trump mengklaim telah menawarkan opsi terbaik, sembari tetap menyisipkan ancaman militer jika Iran menolak.

“Kami menawarkan Kesepakatan yang sangat adil dan masuk akal, dan saya harap mereka menerimanya,” tulis Trump, seraya memperingatkan akan menyerang infrastruktur Iran jika jalan buntu ini terus berlanjut.

Status Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan dunia kini kembali tidak menentu. Meskipun Iran sempat membuka jalur tersebut pada Jumat lalu sebagai bentuk respons terhadap gencatan senjata Israel-Hizbullah, penutupan kembali dilakukan pada Sabtu setelah melihat AS tetap tidak bergeming dari kebijakan blokadenya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengkritik keras tindakan Amerika yang tetap mengunci akses kapal-kapal Teheran. Ia menilai tindakan tersebut merupakan pengkhianatan terhadap semangat gencatan senjata dua pekan yang dimulai sejak 8 April lalu.

“Blokade itu sebagai “pelanggaran” terhadap gencatan senjata dan bentuk hukuman kolektif ilegal terhadap rakyat Iran,” tegas Baqaei dalam pernyataannya pada Minggu.

Data pelacakan kapal menunjukkan Selat Hormuz kini kembali kosong dari lalu lintas komersial. Risiko keamanan yang tinggi, ditambah dengan insiden penembakan kapal pada sore sebelumnya, membuat perusahaan kapal tanker enggan melintas. Jika tidak ada terobosan diplomasi dalam 48 jam ke depan, kawasan ini diprediksi akan kembali jatuh ke dalam eskalasi konflik yang lebih dalam.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *