Indonesia Mendorong Percepatan Perjanjian Ekonomi ASEAN dan Uni Eropa Guna Hadapi Ketidakpastian Global

Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha C. Nasir. (Dok. Kementerian Luar Negeri RI)

JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Wakil Menteri Luar Negeri, Arrmanatha C. Nasir, menekankan bahwa kemitraan strategis antara Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dan Uni Eropa (UE) harus segera beralih dari sekadar simbolisme diplomatik menuju kerja sama ekonomi yang nyata. Hal tersebut disampaikan dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN-Uni Eropa ke-25 yang berlangsung di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Selasa (28/4/2026).

Di hadapan para delegasi, Indonesia secara spesifik menyuarakan pentingnya percepatan pembentukan Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Kesepakatan ini dinilai menjadi kunci utama agar hubungan kedua kawasan mampu memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha maupun masyarakat luas. Arrmanatha menegaskan bahwa di tengah dinamika geopolitik yang fluktuatif, stabilitas pasar memerlukan kepastian hukum dan kerja sama yang solid.

“Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa bukan sekadar simbol. Manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku bisnis, serta dapat diandalkan oleh pasar. Untuk itu, kita perlu mendorong terwujudnya Comprehensive Economic Partnership Agreement antara ASEAN dan EU,” ujar Arrmanatha C. Nasir dalam pernyataan resminya.

Lebih lanjut, Indonesia mengharapkan Uni Eropa mengambil peran lebih konstruktif sebagai jembatan di tengah ketegangan geoekonomi saat ini. Sebagai blok ekonomi yang mapan, Uni Eropa didorong untuk memperkuat kolaborasi dengan negara-negara di kawasan Global South. Langkah ini krusial demi mempertahankan sistem internasional yang transparan, adil, dan stabil bagi semua pihak.

Selain isu ekonomi, pertemuan tersebut juga menyoroti mendesaknya reformasi pada sistem multilateral. Arrmanatha menyebutkan bahwa tata kelola global saat ini perlu disesuaikan agar lebih inklusif dan responsif terhadap realitas dunia modern. Kemitraan yang telah terjalin sejak tahun 1977 ini diharapkan menjadi motor penggerak bagi tatanan global yang lebih berkelanjutan.

Bacaan Lainnya

“Kemitraan ASEAN dan Uni Eropa harus bekerja sama dengan negara Global South lainnya untuk mempertahankan sistem internasional yang terbuka, adil dan stabil,” tambah Wamenlu RI dalam forum yang juga dihadiri oleh perwakilan tinggi Uni Eropa tersebut.

Di sela-sela agenda utama, Wamenlu RI melakukan serangkaian pertemuan bilateral dengan menteri dan wakil menteri luar negeri dari Austria, Polandia, Portugal, hingga Jerman. Dalam diskusi tersebut, fokus kerja sama yang menjadi prioritas meliputi ketahanan pangan, transformasi digital, energi terbarukan, serta keamanan maritim.

Pertemuan tahunan ini secara resmi ditutup dengan adopsi Pernyataan Bersama Menlu ASEAN-Uni Eropa. Menjelang usia emas kemitraan yang ke-50 pada tahun 2027 mendatang, kedua kawasan berkomitmen untuk memperkuat landasan hukum internasional serta memastikan bahwa setiap kolaborasi yang dilakukan tetap berbasis pada prinsip multilateralisme yang kuat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *