JAKARTA – Peristiwa berdarah itu terjadi sekitar pukul 09.00 waktu setempat di San Jose National High School, Provinsi Leyte. Kepolisian setempat telah mengamankan dua tersangka yang masih berusia 15 dan 14 tahun.
Salah satu pelaku diketahui merupakan siswa kelas 9 di sekolah tersebut dan berhasil ditangkap tidak lama setelah insiden terjadi. Sementara pelaku lainnya menyerahkan diri kepada aparat beberapa saat kemudian.
“Kedua pelaku menembak secara acak di dalam sekolah,” ujar Letnan Polisi Evalyn Diaz kepada AFP.
Polisi menyatakan proses pemeriksaan terhadap kedua remaja tersebut masih berlangsung dengan pendampingan orang tua masing-masing karena keduanya masih berstatus anak di bawah umur.
Menurut pihak kepolisian, dugaan awal mengarah pada motif perundungan atau bullying, meski hingga kini penyidik belum dapat memastikan secara utuh latar belakang penembakan tersebut.
“Kami mendengar bahwa perundungan menjadi motif di balik tindakan mereka, tetapi kami belum sempat menanyai mereka terkait hal itu,” kata Diaz.
Ia menambahkan, aparat masih mendalami kronologi lengkap insiden tersebut.
“Kami juga belum dapat memastikan rangkaian kejadian secara lengkap.”
Video yang beredar di media lokal dan telah diverifikasi AFP memperlihatkan suasana mencekam di dalam sekolah. Dalam rekaman tersebut, sejumlah siswa tampak berteriak dan menangis sambil berlindung di ruang kelas saat suara tembakan terdengar berulang kali.
Kepolisian juga mengungkap fakta mengejutkan terkait senjata yang digunakan pelaku. Salah satu senjata berupa pistol Glock 9 mm diketahui merupakan milik seorang anggota kepolisian.
Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina, Allen Rae Co, mengatakan pistol tersebut terdaftar atas nama seorang polisi wanita yang bertugas di wilayah Eastern Visayas.
“Pistol Glock 9 mm itu dimiliki atau diberikan kepada seorang polisi wanita yang bertugas di wilayah Eastern Visayas,” ujarnya.
Polisi wanita tersebut kini telah diamankan dan sedang menjalani penyelidikan lebih lanjut.
Sementara itu, senjata kedua berupa pistol kaliber .38 diketahui terdaftar atas nama sebuah perusahaan jasa keamanan di Cebu City.
Seluruh korban luka langsung dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis intensif. Hingga kini belum ada pembaruan resmi mengenai kondisi tujuh siswa yang terluka.
Menanggapi tragedi tersebut, Presiden Ferdinand Marcos Jr memerintahkan penyelidikan menyeluruh.
“Presiden merasa sedih atas kejadian ini,” demikian pernyataan resmi kantor kepresidenan.
Pemerintah juga menginstruksikan peningkatan pengamanan di berbagai fasilitas publik, terutama sekolah-sekolah.
Sementara itu, Kementerian Pendidikan Filipina menetapkan insiden ini sebagai situasi siaga tinggi.
“Pejabat dari kantor pusat kami, bersama personel kantor regional dan divisi, saat ini berada di lapangan dan berkoordinasi erat dengan pihak sekolah serta aparat penegak hukum untuk mengamankan lokasi,” demikian pernyataan kementerian.
Sekolah negeri tersebut diketahui memiliki lebih dari 1.500 siswa.
Kasus penembakan di lingkungan sekolah tergolong jarang terjadi di Filipina, meski kejahatan bersenjata masih cukup sering terjadi akibat tingginya peredaran senjata ilegal.
Salah satu insiden besar sebelumnya terjadi pada Juli 2022 saat seorang pria bersenjata melepaskan tembakan dalam upacara wisuda Fakultas Hukum Ateneo de Manila University di Quezon City yang menewaskan tiga orang, termasuk mantan Wali Kota Lamitan, Rose Furigay.







