TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek melalui Dinas Pertanian dan Pangan (Distanpan) tengah berada dalam jalur positif untuk mencapai target produksi padi sebesar 80 ribu ton pada musim tanam tahun ini. Hingga minggu kedua April 2026, akumulasi produksi gabah di wilayah tersebut dilaporkan telah menyentuh angka 68 ribu ton, sebuah capaian signifikan yang terus dipantau guna memastikan stabilitas stok pangan daerah.
Keberhasilan ini didukung oleh luas tanam periode Oktober 2025 hingga Maret 2026 yang mencapai 15.610 hektare. Kepala Distanpan Trenggalek, Imam Nurhadi, mengungkapkan optimisme bahwa angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan masih berlangsungnya masa panen di sejumlah titik.
“Hingga minggu kedua April 2026, laporan produksi gabah yang masuk telah menyentuh angka 68 ribu ton,” ujar Imam Nurhadi saat memberikan keterangan resmi. Ia menambahkan, pihak pemerintah berharap sisa luas panen yang ada mampu mendongkrak total produksi melampaui target yang telah ditetapkan. “Kami mengharapkan luas panen nantinya bisa mengangkat angka produksi di atas 80 ribu ton. Sampai hari ini, Indeks Pertanaman (IP) kita sudah berada di atas angka 2,” imbuhnya.
Namun, di tengah tren positif tersebut, Distanpan Trenggalek kini dalam posisi waspada tinggi. Tantangan besar berupa kemarau panjang diprediksi akan melanda pada Agustus hingga September 2026. Menanggapi potensi cuaca ekstrem tersebut, serangkaian langkah mitigasi telah disiapkan untuk menjaga agar Indeks Pertanaman tidak mengalami penurunan.
Strategi utama yang akan diterapkan meliputi penguatan pasokan air melalui sistem perpompaan dengan memanfaatkan aliran sungai yang masih mengalir, optimalisasi sumber mata air, hingga peninggian muka air pada dam parit. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jangkauan irigasi ke lahan-lahan pertanian yang rawan terdampak kekeringan.
“Langkah-langkah ini kami tempuh untuk mempertahankan indeks pertanaman agar tidak merosot akibat kekeringan,” tegas Imam. Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan sisa sumber air untuk disalurkan langsung ke sawah-sawah warga. “Lalu memanfaatan mata air. Menyalurkan air dari sumber mata air yang tersisa ke lahan pertanian melalui sistem perpompaan. Mudah-mudahan ketahanan pangan di Trenggalek tetap terjaga dengan produksi yang baik seperti tahun kemarin,” harapnya.
Di tingkat petani, kondisi lapangan saat ini terpantau masih cukup stabil. Isnan Ali, salah satu petani di Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, melaporkan bahwa hasil panennya musim ini sangat memuaskan dengan produktivitas mencapai 7,6 ton per hektare menggunakan benih Inpari 32.
“Untuk panen kemarin itu kami mengadakan bimbingan 7,6 ton per luas hektare,” kata Isnan Ali. Ia juga mengaku bersyukur karena saat ini curah hujan masih cukup membantu pengairan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pompa tambahan. “Alhamdulillah curah hujan masih tinggi. Tidak ada keluhan doanya saja semoga aman tidak ada hambatan untuk kesejahteraan petani,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Trenggalek berkomitmen untuk terus mendampingi petani guna memastikan target swasembada pangan tetap terjaga, meskipun tantangan iklim mulai mengintai di depan mata.







