JAKARTA – Fenomena percepatan karier militer di lingkaran kekuasaan kembali menjadi sorotan publik. Langkah Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, dinilai mengingatkan kembali pada preseden sejarah di era Presiden Sukarno, di mana kedekatan dengan pucuk pimpinan negara menjadi katalisator utama kenaikan pangkat yang melampaui prosedur normal.
Berdasarkan penelusuran, Presiden Prabowo Subianto diduga tengah menyiapkan peta jalan khusus bagi Teddy Indra Wijaya untuk segera meraih pangkat perwira tinggi atau “pecah bintang”. Privilese ini terlihat dari rekam jejak karier Teddy yang melesat dari Mayor menjadi Letnan Kolonel hanya dalam kurun waktu 20 bulan.
Padahal, merujuk pada regulasi kepangkatan TNI tahun 2022, seorang prajurit berpangkat Mayor baru bisa dipromosikan menjadi Letnan Kolonel setelah menempuh masa dinas minimal 18 tahun dan wajib lulus sekolah komando angkatan. Teddy tercatat baru berdinas selama 14 tahun dan belum menempuh pendidikan komando tersebut saat pangkat melati dua disematkan di pundaknya.
Pola “jalur ekspres” ini memiliki kemiripan dengan peristiwa Agustus 1959. Saat itu, Presiden Sukarno secara tidak sengaja menaikkan pangkat Kolonel Sambas Atmadinata menjadi Brigadir Jenderal dalam sebuah pidato. Demi “menyelamatkan wajah” Presiden, Menteri Pertahanan saat itu, Abdul Haris Nasution, meresmikan kenaikan pangkat tersebut meski Sambas baru saja naik pangkat beberapa bulan sebelumnya.
Bahkan, di awal kemerdekaan, Sukarno pernah menaikkan pangkat ajudannya dari Letnan menjadi Kolonel hanya dalam hitungan jam karena alasan prestise di mata internasional.
Kini, Teddy tidak hanya menikmati akselerasi kepangkatan, tetapi juga memegang kendali strategis sebagai Sekretaris Kabinet. Ia memiliki kewenangan besar dalam menyaring laporan kinerja para menteri serta menentukan arus komunikasi langsung kepada Presiden Prabowo.
“Kami mendapat informasi awal bahwa Presiden Prabowo Subianto menyiapkan peta jalan karier militer Teddy agar segera pecah bintang menjadi perwira. Informasi ini menjadi petunjuk bagi kami untuk menelusuri privilese Teddy sebagai orang dekat Prabowo,” demikian bunyi kutipan dalam laporan tersebut, dikutip dari Tempo.
Meskipun regulasi kepangkatan akhirnya diubah setelah Teddy dipromosikan, fenomena ini memicu diskusi mengenai penataan organisasi militer yang seharusnya ketat dan rapi. Di era modern, kepatuhan terhadap aturan kepangkatan menjadi indikator profesionalisme institusi agar tidak terkooptasi oleh kepentingan politik personal.







