Kontras Dua Pemimpin: Prabowo Semprot Kritikus, Jokowi Rangkul Pakar di Solo

Presiden Prabowo Makan Malam Bersama Presiden ke-7 RI Jokowi di Kertanegara, Jumat, 6 Desember 2024 . (Foto: BPMI Setpres RI)

JAKARTA – Dinamika komunikasi politik nasional memperlihatkan dua pendekatan yang berolak belakang. Di satu sisi, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan kritik tajam terhadap kalangan pengamat yang dianggap menyebar narasi tanpa fakta. Di sisi lain, Presiden ke-7 RI Joko Widodo memilih membuka pintu kediamannya untuk berdialog santai bersama akademisi.

Langkah keras diperlihatkan Presiden Prabowo Subianto kala menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Plenary Hall JICC, Senayan, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Di hadapan para kader partai, Kepala Negara menyoroti etika dan kebiasaan segelintir pakar yang dinilai sering melempar fitnah ke publik.

Prabowo menegaskan bahwa intelektualitas maupun tingginya gelar akademis tidak berarti apa pun apabila seseorang mengabaikan nilai integritas dan kejujuran. Menurutnya, pemikiran yang dipakai hanya untuk menyudutkan pemerintah tanpa dasar objektif justru menjatuhkan martabat ilmuwan itu sendiri.

“Terserah pakar-pakar yang menganggap dirinya pakar. Saking pinternya, saking pinternya jadi goblok,” tegas Prabowo saat menyampaikan pidatonya.

Respon reaktif Prabowo tersebut menggambarkan posisinya sebagai kepala pemerintahan aktif yang menghadapi tekanan opini publik serta arus kritik harian.

Bacaan Lainnya

Secara bertolak belakang, suasana hangat justru tampak di Jawa Tengah. Mantan Presiden Joko Widodo menerima kedatangan pengamat politik Iyyas Subiakto di rumah pribadinya yang berlokasi di Jalan Kutai Utara No 1, Sumber, Solo.

Meski mempertemukan mantan kepala negara dengan seorang ahli ilmu politik, pertemuan yang berlangsung secara tertutup itu sama sekali bersih dari pembahasan isu politik nasional. Diskusi kedua tokoh tersebut justru mengalir ringan mengulas perkembangan ekonomi global serta lanskap mata uang kripto (cryptocurrency).

Langkah Jokowi menjamu pakar politik tanpa membahas politik mengindikasikan pergeseran perannya. Usai purnatugas dari jabatan publik, Jokowi lebih leluasa membangun pola komunikasi yang rileks, personal, serta terlepas dari dinamika kekuasaan negara.

“Silaturahmi saja, ngobrol-ngobrol saja. Saya kalau dengan Pak Jokowi tidak membicarakan politik, yang santai-santai saja. Tadi kami membahas uang digital,” ungkap Iyyas usai pertemuan tersebut, dilansir dari Warta Ekonomi.

Perbedaan gaya interaksi kedua figur ini merefleksikan posisi politik masing-masing. Sebagai Presiden aktif, Prabowo dituntut memasang sikap lugas terhadap serangan kritikus yang menyasar kebijakan pemerintahannya. Sementara itu, Jokowi memanfaatkan masa pensiunnya untuk menjalin silaturahmi yang inklusif dan diskusi non-formal di luar urusan ketatanegaraan.

Pos terkait